Produk dan harga

Kamis, 10 Mei 2012

Kandungan kolesterol per 10 gram makanan


Kandungan kolesterol per 10 gram makanan

No
Nama makanan
Kolesterol (mg)
kategori
1
Putih telor ayam
0
Sehat
2
Teripang / haisom
0
Sehat
3
Ubur-ubur
0
Sehat
4
Susu sapi non fat
0
Sehat
5
Daging ayam pilihan tanpa kulit
50
Sehat
6
Daging bebek pilihan tanpa kulit
50
Sehat
7
Ikan sungai biasa
55
Sehat
8
Daging sapi pilihan tanpa lemak
60
Sehat
9
Daging kelinci
65
Sehat
10
Daging kambing pilihan tanpa lemak
70
Sehat
11
Ikan ekor kuning
85
Sehat
12
Daging asap / ham
98
Sekali-sekali
13
Iga sapi
100
Sekali-sekali
14
Daging sapi
105
Sekali-sekali
15
Burung dara
110
Sekali-sekali
16
Ikan bawal
120
Sekali-sekali
17
Daging sapi berlemak
125
Sekali-sekali
18
Gajih sapi
130
Hati-hati
19
Gajih kambing
130
Hati-hati
20
Keju
140
Hati-hati
21
Sosis daging
150
Hati-hati
22
Kepiting
150
Hati-hati
23
Udang
160
Hati-hati
24
Kerang / siput
160
Hati-hati
25
Belut
185
Berbahaya
26
Santan kelapa
185
Berbahaya
27
Susu sapi
250
Berbahaya
28
Susu sapi full cream
280
Berbahaya
29
Coklat / kakao
290
Berbahaya
30
Mentega / margarin
300
Berbahaya
31
Jeroan sapi
380
Berbahaya
32
Kerang putih / remis / tiram
450
Berbahaya
33
Telor ayam
500
Berbahaya
34
Jeroan kambing
610
Berbahaya
35
Cumi-cumi
1170
Pantang
36
Kuning telor ayam
2000
Pantang
37
Otak sapi
2300
Pantang
38
Telur burung puyuh
3640
Pantang

Keterangan:
Kolesterol normal dalam darah: 160-200 mg
Kolesterol tinggi akan mengakibatkan penyakit seperti: hipertensi, jantung, stroke.

Sumber: General Hospital, Singapore

Minggu, 06 Mei 2012

Risiko Stroke Akibat Obesitas



Kematian komedian Ade Namnung tanggal 31 Januari 2012 kemarin mengejutkan banyak orang terutama para sahabat dan kerabat terdekatnya. Presenter yang bertubuh tambun yang kerap mengisi acara Tawa Sutra ini awalnya mengalami stroke saat mengisi acara di Surabaya pada pertengahan Desember 2011 silam, Ade kemudian di rawat di Rumah Sakit Mitra Keluarga Satelit Surabaya. Setelah kondisinya stabil Jumat (20/01), Ade melanjutkan perawatan fisioterapi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur.
Sebelum meninggal, selama menjalani perawatan dokter menyarankan Ade untuk menurunkan berat badan hingga 70 kg, jika diharuskan mengurangi berat badan sebanyak itu artinya Ade mengalami obesitas yang tinggi. Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian BogorProf. Dr. Ir Ali Khomsan menilai bahwa Ade Namnung menderita obesitas akut yang berada pada level sangat parah. Sehingga dari kegemukan yang dialaminya tersebut membuatnya rentan terhadap penyakit seperti stroke dan serangan jantung. Kematian Ade Namnung mengingatkan kita pada kematian komedian Agung Firmansyah atau yang dikenal dengan nama Big Dicky pada 9 Nov 2007 silam yang juga akibat obesitas.
Obesitas merupakan penyebab meningkatnya angka kesakitan dan kematian berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, dan terjadinya penyempitan pembuluh darah otak yang menyebabkan stroke atau penyempitan pembuluh darah jantung yang menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner.
Obesitas adalah berat badan sangat berlebih yang terutama disebabkan akumulasi lemak tubuh. Pada umumnya, para ahli sepakat bahwa IMT e” 30 dinyatakan sebagai obesitas yaitu BB dalam kg dibagi pangkat dua tinggi badan (TB) dalam cm. Pada keadaan tertentu, IMT tidak dapat digunakan, misalnya pada lanjut usia, kehamilan, dan edema. Selain dari pada pengukuran obesitas dengan memakai IMT, ada beberapa pengukuran yaitu: lingkar Pinggang (waist circumference) yang di ukur dengan lingkar yang melalui pusat, perbandingan lingkar pinggang dan panggul yang diukur lingkar pinggang maksimum. Lingkar pinggang diukur melalui bokong. Perbandingan lingkar pinggang dan panggul merupakan salah satu ukuran yang menggambarkan distribusi lemak tubuh pada dinding perut dan jaringan di bawahnya yang dapat dipakai sebagai faktor risiko penyakit degeneratif. Perbandingan ini meningkat masing-masing dengan pertambahan usia dan BB lebih maupun kombinasi.
Dalam 10 tahun terakhir ini, angka prevalensi obesitas di seluruh dunia menunjukkan peningkatan yang signifikan. Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa mengalami berat badan lebih (overweight), dan kurang lebih 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun 2015, diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan mengalamioverweight dan 700 juta di antaranya mengalami obesitas.
Kejadian obesitas di negara-negara maju seperti di Eropa, Amerika, dan Australia telah mencapai tingkatan epidemi. Kejadian ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju saja, obesitas di beberapa negara berkembang bahkan telah menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Sebagai contoh, 70% dan penduduk dewasa Polynesia di Samoa masuk kategori obesitas (WHO, 1998).
Prevalensi overweight dan obesitas juga meningkat sangat tajam di kawasan Asia-Pasifik. Sebagai contoh, 20,5% dari penduduk Korea Selatan tergolong overweight dan 1,5% tergolong obesitas. Di Thailand, 16% penduduknya mengalami overweight dan 4% mengalami obesitas. Di daerah perkotaan Cina, prevalensi overweight adalah 12,% pada laki-laki dan 14,4% pada perempuan, sedang di daerah pedesaan prevalensi overweight pada laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 5,3% dan 9,8% (Inoue, 2000).
Di Indonesia, prevalensi obesitas menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% terdiri dari laki-laki 13,9%, dan perempuan 23,8%.
Mereka dengan IMT paling sedikit 30 mempunyai 50-100% peningkatan risiko kematian dibandingkan mereka dengan IMT 20-25.  Obesitas tipe buah apel mempunyai risiko hampir 3 kali untuk menderita penyakit jantung dibandingkan dengan mereka dengan berat badan normal.
Berdasarkan Penyebaran Lemak, obesitas akan membahayakan kesehatan jika kelebihan lemak di dalam tubuh tersebar pada tubuh bahagian atas, seperti perut, dada, leher dan muka. Berdasarkan ini maka dapat digolongkan atas kegemukan tipe buah apel (sebahagian besar berupa sel lemak yang besar dan jenuh) dan tipe buah pir (sebahagian besar berupa sel lemak yang kecil dan tidak jenuh). Lemak pada daerah perut secara spesifik dihubungkan dengan kekakuan pembuluh darah aorta, yaitu pembuluh darah arteri utama yang mensuplai darah ke organ-organ tubuh.
Mengenal Stroke dan Faktor Risikonya
Stroke yang dalam bahasa Inggrisnya cerebrovascular accident (CVA) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Aliran darah ke otak dapat terganggu akibat penyumbatan (trombosit atau embolisme) atau kebocoran (perdarahan) salah satu arteri di otak.Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusak atau mematikan sel-sel saraf di otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu.Bila dapat diselamatkan, kadang-kadang penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, hilangnya sebagian ingatan atau kemampuan bicaranya terganggu.
Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa. Di Indonesia penderita sroke makin bertambah, menyerang segala usia dan tingkat ekonomi. Data WHO tahun 2005 menyebutkan, 10 persen kematian di dunia disebabkan oleh stroke. Sedangkan di Indonesia, prevalensi stroke terjadi 1-2 persen dari penduduk Indonesia, yakni sekitar 2-3 juta jiwa. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2007, prevalensi stroke nasional sekitar 0,8 persen. Sementara ahli epidemiologi meramalkan, sekitar 12 juta penduduk Indonesia berumur lebih dari 35 tahun berpotensi terkena serangan stroke.
Faktor risiko stroke dapat dibagi dalam faktor risiko tak dapat diubah yang terdiri dari umur, jenis kelamin, berat badan lahir yang rendah, ras, faktor keturunan, kelainan pembuluh darah bawaan. Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah adalah hipertensi, kebiasaan merokok, diabetes, penyakit jantung (Atrial Fibrilation), kenaikan kadar cholesterol/lemak darah, kegemukan/ obesitas.
Gejala penderita yang terkena stroke antara lain mati rasa atau rasa bebal mendadak, lemah, tidur terus, kejang, emosi berubah, kelumpuhan pada wajah atau anggota tubuh lain seperti lengan atau kaki pada sisi tubuh, gangguan penglihatan, gangguan bicara, gangguan daya ingat, gangguan keseimbangan, vertigo, terhuyung, sukar berjalan, tersandung ketika berjalan, gangguan orientasi tempat, waktu dan orang, gangguan menelan cairan atau makanan padat, mendadak pusing, nyeri kepala, pingsan bahkan koma.
Masing-masing bagian otak memiliki fungsi tertentu, maka gejala dan tanda stroke pada setiap individu sangat bervariasi, tergantung pembuluh darah mana yang terkena dan bagian otak mana yang terganggu.
Periode emas penanggulangan stroke adalah 3-6 jam setelah gejala awal terjadi. Bila belum tiga jam sudah tertangani dokter yang tepat di rumah sakit, kemungkinan besar pasien bisa tertolong dan dapat pulih kembali. Namun, jika sudah lebih dari tiga jam tapi belum enam jam, pasien masih akan tertolong meskipun mengalami kecacatan ringan. Jika setelah enam jam pasien bisa mengalami kecacatan yang berat atau kematian. Lebih dari waktu itu berbahaya sebab sel otak kalau sudah mati tidak dapat regenerasi. Oleh karena itu penderita stroke semakin cepat mendapat pertolongan makin baik.
Pencegahan stroke dapat dilakukan dengan mengenali dan mengendalikan faktor risiko yang dapat dicegah seperti mengawasi dan mengendalikan tekanan darah bagi penderita hipertensi, menghilangkan atau minimal mengurangi kebiasaan merokok, mengontrol kadar cholesterol/lemak darah dengan senantiasa melakukan pemeriksaan kadar kolesterol dan melakukan diet untuk mencegah kegemukan dan obesitas.

Sumber: www.kompasiana.com

Senin, 23 April 2012

Data Statistik Jumlah Penderita Diabetes di Dunia versi WHO

Kenaikkan jumlah penduduk dunia yang terkena penyakit diabetes atau kencing manis semakin mengkhawatirkan. Menurut WHO pada tahun 2.000 jumlahh penduduk dunia yang menderita diabetes sudah mencapai 171,230,000 orang dan pada tahun 2030 diperkirakan jumlah penderita diabetes di dunia akan mencapai jumlah 366,210,100 orang atau naik sebesar 114% dalam kurun waktu 30 tahun.
Dibawah ini adalah data statistik jumlah penderita diabetes di dunia versi WHO pada tahun 2000 dan proyeksi jumlah penderita diabetes dunia pada tahun 2030. Indonesia menduduki tempat ke 4 terbesar dengan pertumbuhan sebesar 152% atau dari 8.426.000 orang pada tahun 2.000 menjadi 21.257.000 orang di tahun 2030.
(Sumber: http://indodiabetes.com/)

Kencing manis (diabetes mellitus) adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat mengatur kandungan gula dalam darah sehingga glukosa atau gula yang biasanya diangkut menuju sel-sel tubuh sebagai sumber energi justru tercecer dalam aliran darah, bahkan ikut terbuang dalam air seni. Pengaturan gula darah oleh tubuh dilakukan dengan bantuan hormon insulin yang berasal dari pankreas. Diabetes terdiri dari dua jenis:

Tipe 1:

Diabetes karena tubuh tidak memproduksi insulin sehingga penderita harus disuntik insulin setiap hari untuk mengendalikan kadar gula darah. Diabetes tipe 1 terjadi pada anak-anak dan remaja dan perkembangannya berlangsung cepat.

Tipe 2:

Pada diabetes tipe 2, pankreas memproduksi insulin, namun sel-sel tubuh tidak meresponnya secara normal. Jenis diabetes ini biasanya terkait dengan kegemukan dan beberapa kasus kehamilan serta baru berjangkit pada usia di atas 40 tahun.
Kadar gula darah tinggi secara lambat laun akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah dan saraf yang mengakibatkan gangguan fungsi mata, ginjal dan saraf serta meningkatkan risiko serangan jantung, stroke dan impotensi.

Gejala diabetes

Pada diabetes tipe 2, kontrol gula darah dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup dan pola makan. Menurut berbagai penelitian, perubahan tersebut terbukti efektif menekan risiko diabetes. Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk menyadari bila diabetes sudah ada dalam diri Anda. Sekitar 8.6% penduduk Indonesia menurut WHO mengidap diabetes, sayangnya banyak yang tidak menyadari sampai kasusnya menjadi kronis.
Seseorang dikatakan menderita diabetes bila kadar gula dalam darahnya di atas 126 mg/dl (puasa) atau 200 mg/dl (tidak puasa). Namun, kebanyakan gejala diabetes baru terlihat bila gula darah sudah di atas 270 mg/dl. Jangan mengandalkan gejala untuk mengetahui kehadiran diabetes. Satu-satunya cara yang akurat untuk mengetahuinya adalah dengan tes darah dan urin.
Gejala atau tanda-tanda diabetes yang umum terjadi adalah:
  • Dehidrasi
  • Rasa haus terus-menerus
  • Peningkatan frekuensi kencing
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan
  • Gangguan penglihatan
  • Penyembuhan luka yang lama
 APAKAH HERBALIFE DAPAT MENGOBATI DIABETES?
Jawab:
 Herbalife bukan obat, dan tidak dimaksudkan untuk mendiagnosa dan menyembuhkan suatu penyakit.
Herbalife adalah Nutrisi tingkat sel, makanan sehat, baik dikonsumsi oleh siapa saja, orang sehat, orang sakit, orang gemuk, orang kurus, orang sedang, anak-anak, orang tua. Semua yang hidup membutuhkan makanan khan?
Herbalife adalah makanan canggih, memberi nutrisi langsung pada bagian terkecil dari tubuh manusia yang disebut SEL. Jika selnya mendapat nutrisi yang baik maka dia akan meregenerasi sel dengan sel yang sehat. Jadi semua membutuhkan Herbalife.

Selasa, 17 April 2012

Tiga Dekade Terakhir Terjadi Tsunami Obesitas di Dunia

[PARIS] Dalam tiga dekade terakhir terjadi tsunami obesitas di kalangan orang dewasa di seluruh dunia. Lebih dari setengah juta orang pria dan wanita atau satu dari sembilan orang dewasa secara klinis mengalami obesitas.

Demikian hasil penelitian sebuah tim dari Imperial College London, Harvard, dan WHO (World Health Organization) yang diumumkan pada Jumat (4/2).

Menurut temuan tim itu, berdasarkan data terkhir pada 2008, satu dari tujuh perempuan dan satu dari 10 laki-laki mengalami obesitas. Menurut WHO, kegemukan yang berlebihan ini membuat tiga juta orang di seluruh dunia mengalami kematian dini setiap tahun karena serangan jantung, diabetes, kanker dan berbagai jenis penyakit lainnya.

Para peneliti melukiskan masalah itu sebagai sebuah keadaan darurat populasi. “Akan ada puluhan juta kematian yang bisa dicegah bila ada tindakan yang cepat dan meluas oleh pemerintah dan sistim jaminan kesehatan di seluruh dunia,” bunyi laporan yang diterbitkan oleh The Lancet itu.

Masalah obesitas ini masih banyak terjadi di negara-negara kaya. Dari antara negara-negara kaya itu, masalah obesitas ini paling subur bertumbuh di Amerika Serikat lalu diikuti oleh Selandia Baru dan Australia untuk perempuan serta Inggris dan Australia untuk pria.

Sementara negara-negara berkembang khususnya negara-negara Timur Tengah dan di negara-negara yang mengalami tingkat urbanisasi yang tinggi masalah obesitas ini mengalami peningkatan yang signifikan.

“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelebihan berat badan berdampak bagi satu dari tiga orang dewasa dan obesitas berdampak bagi satu dari sembilan orang dewasa. Ini adalah sebuah tsunami obesitas yang akan menerjang semua wilayah di dunia,” kata Sonia Anand dan Salim Yusuf dari Universitas McMaster Kanada dalam komentarnya melengkapi hasil studi tersebut.

Tingkat obesitas global pada pria dewasa meningkat dua kali lipat dari 4,8 persen pada 1980 menjadi 9,8 persen pada 2008. Sementara untuk perempuan dewas meningkat dari 7,9 persen menjadi 13,8 persen pada periode yang sama.

Rumusan untuk mengukur berat ideal seseorang adalah indeks berat badan atau index massa badan (body-mass index=BMI) dibagi tinggi badan. BMI dari 25 sampai 30 peserta yang diteliti mengalami kelebihan berat badan sementara di atas 30 orang mengalami obesitas. [AFP/A-21]

Sumber : http://www.suarapembaruan.com

Rabu, 21 Maret 2012

OBESITAS DAN DIABETES



Obesitas (kegemukan) berhubungan erat dengan patofisiologi diabetes mellitus, resistansi insulin, dislipidemia, hipertensi, dan aterosklerosis. Obesitas sangat berkontribusi terhadap kejadian sindrom metabolik yang berkaitan dengan metabolisme lemak dan glukosa. Namun dalam skala yang besar, obesitas juga dapat mempengaruhi disfungsi berbagai organ.
Adipokin (zat dari jaringan adiposa/lemak yang bersifat pro-inflamasi, mencetuskan resistansi insulin, hipertensi, dan trombosis) mengalami peningkatan. Dalam keadaan normal adipokin dipertahankan seimbang dengan hormon dari sel adiposit yang bersifat sebagai anti-inflamasi dan anti-aterogenik. Salah satu hormon protektif ini adalah adiponektin, yang dapat melindungi hati dari fibrosis karena efek anti-inflamasi terhadap sitokin tumour necrosis factor-α (TNF-α) yang merusak lemak di hati dan mengganggu pelepasan insulin di pankreas. Obesitas juga menyebabkan disfungsi imun karena efeknya terhadap sekresi adipokin inflamasi; dan menjadi faktor risiko utama dari beberapa kanker; termasuk kanker hati, esofagus, dan usus besar. Karena cepatnya efek obesitas dalam memperburuk metabolik sindrom dan kanker, kondisi ini sangat potensial dalam merusak tubuh  manusia jika metode pengobatan dan pencegahan yang signifikan tidak segera ditemukan. Karena itulah upaya edukasi sangat penting untuk memperbaiki kebiasaan makan dan aktivitas fisik.

Pertimbangan Umum tentang Obesitas
Banyak hal yang telah diketahui tentang pengendalian obesitas; termasuk bahwa pengendalian obesitas berhubungan dengan pengendalian nafsu makan pada tingkat molekular yang mempengaruhi homeostasis energi dari metabolisme lemak dan glukosa. Selanjutnya, obesitas mempunyai peran yang berhubungan dengan gangguan pengaturan pada metabolisme sel yang menyebabkan resistansi insulin pada diabetes mellitus tipe 2. Kelebihan produksi sitokin dari jaringan adiposa berkontribusi pada gangguan fungsi pembuluh darah pada hipertensi dan dislipidemia (kolesterol dan trigliserida yang berlebihan). Kondisi inilah yang akhirnya menimbulkan menjadi aterosklerosis.

Gangguan pengaturan metabolisme lemak dan glukosa : lipotoksisitas dan resistansi insulin pada obesitas

Kelebihan simpanan lemak penting untuk kelangsungan hidup pada waktu kondisi lapar atau kurangnya asupan nutrisi. Asupan nutrisi berlebihan yang terjadi terus menerus akan menyebabkan simpanan lemak juga menjadi berlebihan, yang pada akhirnya akan menyebabkan obesitas. Diduga bahwa simpanan asam lemak dalam bentuk senyawa kimia berupa triasilgliserol dalam sel-sel adiposit dapat melindungi tubuh dari efek toksik asam lemak. Asam lemak dalam bentuk bebas dapat bersirkulasi bebas dalam pembuluh darah dan menimbulkan stres oksidatif di seluruh tubuh (lipotoksisitas). Sejumlah asam lemak bebas dapat dilepaskan dari triasilgliserol dalam upaya kompensasi penghancuran simpanan lemak yang berlebihan; sehingga menimbulkan efek lipotoksisitas yang berpengaruh pada jaringan adiposa maupun non-adiposa; serta berperan pada patofisiologi penyakit di berbagai organ seperti hati dan pankreas. Pelepasan asam lemak bebas dari triasilgliserol yang berlebihan ini juga menghambat lipogenesis dan menurunkan bersihan triasilgliserol. Hal ini dapat meningkatkan kecenderungan hipertrigliseridemia. Pelepasan asam lemak bebas oleh lipoprotein lipase endotel dari trigliserida yang meningkat dalam peningkatan lipoprotein β menyebabkan lipotoksisitas yang juga mengganggu fungsi reseptor insulin. Konsekuensi resistansi insulin adalah hiperglikemia, yang dikompensasi dengan produksi glukosa dari hati (glukoneogenesis), yang justru turut memperberat hiperglikemia. Asam lemak bebas juga menurunkan penggunaan glukosa dari otot yang terstimulasi insulin, yang turut berkontribusi pada hiperglikemia. Lipotoksisitas akibat kelebihan asam lemak bebas turut menurunkan sekresi insulin dari sel β pankreas, yang akhirnya sel β akan mengalami kelelahan.

 Diambil dari http://bahayadiabetes.com
Sumber:
Redinger RN. The Pathophysiology of Obesity and Its Clinical Manifestations. Gastroenterology & Hepatology 2007; 11 (3): 856-863.

Testimoni :
Ibu Dona, 40 tahun, penderita diabetes selama 8 tahun dengan gula darah rata-rata 400 dan sudah menjalankan cuci darah selama 3 tahun. Mengganti sarapan dan makan malamnya dengan Shake Herbalife, alhamdulilah dalam 3 bulan gula darah normal turun berat badan 19 kg dan bebas cuci darah