Kematian komedian Ade Namnung tanggal 31
Januari 2012 kemarin mengejutkan banyak orang terutama para sahabat dan
kerabat terdekatnya. Presenter yang bertubuh tambun yang kerap mengisi
acara Tawa Sutra ini awalnya mengalami stroke saat mengisi acara
di Surabaya pada pertengahan Desember 2011 silam, Ade kemudian di rawat
di Rumah Sakit Mitra Keluarga Satelit Surabaya. Setelah kondisinya stabil Jumat (20/01), Ade melanjutkan perawatan fisioterapi di Rumah Sakit Mitra Keluarga Cibubur.
Sebelum meninggal,
selama menjalani perawatan dokter menyarankan Ade untuk menurunkan
berat badan hingga 70 kg, jika diharuskan mengurangi berat badan
sebanyak itu artinya Ade mengalami obesitas yang tinggi. Guru Besar
Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian
BogorProf. Dr. Ir Ali Khomsan menilai bahwa Ade Namnung menderita
obesitas akut yang berada pada level sangat parah. Sehingga dari
kegemukan yang dialaminya tersebut membuatnya rentan terhadap penyakit
seperti stroke dan serangan jantung. Kematian Ade Namnung mengingatkan kita pada kematian komedian Agung Firmansyah atau yang dikenal dengan nama Big Dicky pada 9 Nov 2007 silam yang juga akibat obesitas.
Obesitas merupakan penyebab meningkatnya
angka kesakitan dan kematian berbagai penyakit degeneratif seperti
hipertensi, dan terjadinya penyempitan pembuluh darah otak yang
menyebabkan stroke atau penyempitan pembuluh darah jantung yang
menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner.
Obesitas adalah berat badan sangat
berlebih yang terutama disebabkan akumulasi lemak tubuh. Pada umumnya,
para ahli sepakat bahwa IMT e” 30 dinyatakan sebagai obesitas yaitu BB
dalam kg dibagi pangkat dua tinggi badan (TB) dalam cm. Pada keadaan
tertentu, IMT tidak dapat digunakan, misalnya pada lanjut usia,
kehamilan, dan edema. Selain dari pada pengukuran obesitas dengan
memakai IMT, ada beberapa pengukuran yaitu: lingkar Pinggang (waist
circumference) yang di ukur dengan lingkar yang melalui pusat,
perbandingan lingkar pinggang dan panggul yang diukur lingkar pinggang
maksimum. Lingkar pinggang diukur melalui bokong. Perbandingan lingkar
pinggang dan panggul merupakan salah satu ukuran yang menggambarkan
distribusi lemak tubuh pada dinding perut dan jaringan di bawahnya yang
dapat dipakai sebagai faktor risiko penyakit degeneratif. Perbandingan
ini meningkat masing-masing dengan pertambahan usia dan BB lebih maupun
kombinasi.
Dalam 10 tahun terakhir ini, angka
prevalensi obesitas di seluruh dunia menunjukkan peningkatan yang
signifikan. Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa mengalami berat badan
lebih (overweight), dan kurang lebih 400 juta diantaranya
mengalami obesitas. Pada tahun 2015, diperkirakan 2,3 miliar orang
dewasa akan mengalamioverweight dan 700 juta di antaranya mengalami obesitas.
Kejadian obesitas di negara-negara maju
seperti di Eropa, Amerika, dan Australia telah mencapai tingkatan
epidemi. Kejadian ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju saja,
obesitas di beberapa negara berkembang bahkan telah menjadi masalah
kesehatan yang lebih serius. Sebagai contoh, 70% dan penduduk dewasa
Polynesia di Samoa masuk kategori obesitas (WHO, 1998).
Prevalensi overweight dan obesitas juga meningkat sangat tajam di kawasan Asia-Pasifik. Sebagai contoh, 20,5% dari penduduk Korea Selatan tergolong overweight dan 1,5% tergolong obesitas. Di Thailand, 16% penduduknya mengalami overweight dan 4% mengalami obesitas. Di daerah perkotaan Cina, prevalensi overweight adalah 12,% pada laki-laki dan 14,4% pada perempuan, sedang di daerah pedesaan prevalensi overweight pada laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 5,3% dan 9,8% (Inoue, 2000).
Di Indonesia, prevalensi obesitas
menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi nasional obesitas umum pada
penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% terdiri dari laki-laki 13,9%,
dan perempuan 23,8%.
Mereka dengan IMT paling sedikit 30
mempunyai 50-100% peningkatan risiko kematian dibandingkan mereka dengan
IMT 20-25. Obesitas tipe buah apel mempunyai risiko hampir 3 kali
untuk menderita penyakit jantung dibandingkan dengan mereka dengan berat
badan normal.
Berdasarkan Penyebaran Lemak, obesitas
akan membahayakan kesehatan jika kelebihan lemak di dalam tubuh tersebar
pada tubuh bahagian atas, seperti perut, dada, leher dan muka.
Berdasarkan ini maka dapat digolongkan atas kegemukan tipe buah apel
(sebahagian besar berupa sel lemak yang besar dan jenuh) dan tipe buah
pir (sebahagian besar berupa sel lemak yang kecil dan tidak jenuh).
Lemak pada daerah perut secara spesifik dihubungkan dengan kekakuan
pembuluh darah aorta, yaitu pembuluh darah arteri utama yang mensuplai
darah ke organ-organ tubuh.
Mengenal Stroke dan Faktor Risikonya
Stroke yang dalam bahasa Inggrisnya cerebrovascular accident (CVA) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba
terganggu. Aliran darah ke otak dapat terganggu akibat penyumbatan
(trombosit atau embolisme) atau kebocoran (perdarahan) salah satu arteri
di otak.Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan
serangkaian reaksi biokimia, yang dapat merusak atau mematikan sel-sel saraf di otak.
Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang
dikendalikan oleh jaringan itu.Bila dapat diselamatkan, kadang-kadang
penderita mengalami kelumpuhan pada anggota badannya, hilangnya sebagian
ingatan atau kemampuan bicaranya terganggu.
Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa.
Di Indonesia penderita sroke makin bertambah, menyerang segala usia dan
tingkat ekonomi. Data WHO tahun 2005 menyebutkan, 10 persen kematian di
dunia disebabkan oleh stroke. Sedangkan di Indonesia, prevalensi stroke
terjadi 1-2 persen dari penduduk Indonesia, yakni sekitar 2-3 juta
jiwa. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) tahun 2007,
prevalensi stroke nasional sekitar 0,8 persen. Sementara ahli
epidemiologi meramalkan, sekitar 12 juta penduduk Indonesia berumur
lebih dari 35 tahun berpotensi terkena serangan stroke.
Faktor risiko stroke dapat dibagi dalam faktor
risiko tak dapat diubah yang terdiri dari umur, jenis kelamin, berat
badan lahir yang rendah, ras, faktor keturunan, kelainan pembuluh darah
bawaan. Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah adalah hipertensi,
kebiasaan merokok, diabetes, penyakit jantung (Atrial Fibrilation),
kenaikan kadar cholesterol/lemak darah, kegemukan/ obesitas.
Gejala penderita yang terkena stroke antara
lain mati rasa atau rasa bebal mendadak, lemah, tidur terus, kejang,
emosi berubah, kelumpuhan pada wajah atau anggota tubuh lain seperti
lengan atau kaki pada sisi tubuh, gangguan penglihatan, gangguan bicara,
gangguan daya ingat, gangguan keseimbangan, vertigo, terhuyung, sukar
berjalan, tersandung ketika berjalan, gangguan orientasi tempat, waktu
dan orang, gangguan menelan cairan atau makanan padat, mendadak pusing,
nyeri kepala, pingsan bahkan koma.
Masing-masing bagian otak memiliki fungsi
tertentu, maka gejala dan tanda stroke pada setiap individu sangat
bervariasi, tergantung pembuluh darah mana yang terkena dan bagian otak
mana yang terganggu.
Periode emas penanggulangan stroke adalah 3-6
jam setelah gejala awal terjadi. Bila belum tiga jam sudah tertangani
dokter yang tepat di rumah sakit, kemungkinan besar pasien bisa
tertolong dan dapat pulih kembali. Namun, jika sudah lebih dari tiga jam
tapi belum enam jam, pasien masih akan tertolong meskipun mengalami
kecacatan ringan. Jika setelah enam jam pasien bisa mengalami kecacatan
yang berat atau kematian. Lebih dari waktu itu berbahaya sebab sel otak
kalau sudah mati tidak dapat regenerasi. Oleh karena itu penderita
stroke semakin cepat mendapat pertolongan makin baik.
Pencegahan stroke dapat dilakukan dengan mengenali dan
mengendalikan faktor risiko yang dapat dicegah seperti mengawasi dan
mengendalikan tekanan darah bagi penderita hipertensi, menghilangkan
atau minimal mengurangi kebiasaan merokok, mengontrol kadar
cholesterol/lemak darah dengan senantiasa melakukan pemeriksaan kadar
kolesterol dan melakukan diet untuk mencegah kegemukan dan obesitas.
Sumber: www.kompasiana.com